WORD PLAY

August 13th, 2008 by unaz

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Cinta adalah
ketika kau selalu teringat akan dirinya

Cinta adalah
ketika kau merindukannya setiap saat

Cinta adalah
ketika kau berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik untuk dirinya

Cinta
adalah perasaan menerima apa adanya

Cinta
adalah ketika kau menatapnya kau terpaku sejenak, terkagum akan keindahan
dirinya, terpana akan tatapan matanya

Cinta adalah
ketika kau mendengar suaranya hatimu terasa tenang dan ketika kau bersamanya
kau merasa senang

Cinta adalah
bukan persoalan menang atau kalah

Cinta adalah
ketika kau memeluknya kau tidak merasakan nafsu yang menjadi-jadi tetapi kau
merasakan ketentraman dan ketenangan hati

Cinta adalah
bukan tentang menerima atau berharap sesuatu darinya tetapi Cinta adalah
tentang apa yang kau beri atau harapan apa yang bisa kau wujudkan untuknya

Cinta tidak
berawal dari materi, otak, pertimbangan logis dan idealisme tetapi Cinta
berawal dari hati, hanya berawal dari hati

Cinta tak lebih
dari perasaan manusia yang selalu berharap tetapi memiliki arti dan makna
melebihi perasaan dan harapan manusia

Cinta tak bisa
kau genggam sendiri, Cinta adalah sesuatu yang hanya bisa kau genggam bersama
dengannya

Cinta adalah
ketika kau memberikan perhatian lebih kepadanya

Cinta adalah
perasaan munafik yang tertutup oleh tameng suci, karena Cinta memang tak hanya
memberikan harapan akan sebuah kebahagiaan, tetapi dibalik itu kau harus selalu
siap akan luka goresan di hati

Cinta akan
menjadi sebuah harapan yang kosong ketika kau sudah tidak merasakan cahaya yang
terang lagi dari dirinya, karena itu, hanya kau yang harus bertanggung jawab
untuk menjaga agar sinar itu tidak akan pernah padam…

CERITA TENTANG SEORANG PENCARI MAKNA

August 13th, 2008 by unaz

&lt;!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:&quot;&quot;;
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–&gt;

Residual atas empati
terhadap mahluk yang memaknai dunia dan kesalahan melalui jendela pikiran
subjektif

 

 

Tidak ada
kesalahan yang dapat ditebus, dalam hal ini tidak berlaku sistem kompensasi. Itulah
yang kuyakini saat ini, setelah Aku mampu melalui sebuah titik terendah dalam
hidupku. Aku bisa memaknai sebuah kesalahan. Kesalahan bersifat irreversible, tidak dapat ditarik
kembali atau ditebus, atau bisa dibersihkan benar dari kotoran nista, tanpa
tersisa. Kesalahan selalu tersisa untukku… Untuk selalu kuingat walau
terkadang menekan jiwaku sampai aku terpuruk. Namun, secepatnya aku sadar bahwa
aku bukan sekedar seonggok daging, aku manusia yang berakal, berpikir dan
bernurani sehingga mampu bangkit lagi dan lagi…

 

Analogi yang
selalu menyadarkanku adalah sebuah luka lebar di kulitku. Luka ini akan sembuh
dengan sendirinya bahkan tanpa diobati secara langsung. Begitu juga dengan
kesalahan yang akan pudar oleh waktu. Namun, luka itu akan terus membekas,
menghantuiku, membangunkanku dari tidur lelapku dan membebaniku. Pola unik di jahitan
akan selalu mengingatkan betapa ceroboh dan bodohnya Aku. Semoga saja Aku tidak
membuat lagi kecerobohan yang sama.

 

Aku tahu benar bahwa
penyesalan tidak akan pernah ada habisnya, akan terus menerus menghantui benak
sampai jiwa dapat memaafkan dan berniat untuk memperbaikinya. Penyesalan ini
menjadi kesempatan untukku belajar, terus belajar untuk memperbaiki dan
berusaha sekuat tenaga untuk tidak menutupi kesalahanku dengan kesalahan yang
lain. Sebuah reaksi berantai yang pernah kusadari sebelumnya, namun Aku
melupakannya.

 

Manusia hidup
dari kesalahan untuk menjadi lebih baik. Kupikir karena manusia belajar. Aku
tahu, karena inilah yang membedakan Aku manusia dengan binatang ataupun tumbuhan.
Mereka tak pernah bisa berpikir apakah dirinya berbuat salah atau benar,
seperti seekor harimau yang membantai seekor kambing, namun apakah itu salah? Ataukah
itu benar? Aku hanya bersyukur karena Aku masih diberi kesempatan untuk
mempelajari kesalahanku, memperbaiki diriku sebelum malaikat maut menjemputku.
Terima kasih…

 

Seorang Nitsche
pernah berkata padaku bahwa hakikat hidup itu adalah kehendak untuk berkuasa. Ketika
itu, dia menunjukan bagaimana cara untuk memaknai moralitas.

 

”Apakah sebenarnya
kegunaan dari penilaian-penilaian dan tabel-tabel moral kita? Apakah hasil yang
diberikan oleh aturan-aturan yang muncul dari penilaian dan tabel moral itu?
Untuk siapa? Dalam kaitannya dengan apa? Jawaban: untuk hidup. Tetapi apa itu
hidup? Disini kita membutuhkan suatu rumusan baru dan lebih pasti tentang
konsep ’hidup’. Rumusan saya tentang hidup adalah: Hidup adalah kehendak untuk berkuasa.” (WP, 254 dikutip dari St. Sunardi : 1996)

 

Dia sepertinya
berusaha memberitahuku bahwa fakta moral itu tidak ada, yang ada adalah
interpretasi atas moral. Moralitas sendiri adalah sistem penilaian, penafsiran
untuk suatu penilaian untuk mempertahankan kehidupan. Aku tak tahu apakah aku
benar memaknai maksud pikirannya atau tidak, yang jelas perkataannya membangunkan
jiwaku. Semoga saja aku tidak tersesat dan hilang arah karena Aku membawanya ke
dalam makna kehidupanku secara luas. Fakta hidup itu tidak ada, yang ada adalah
interpretasi atas hidup. Interpretasi yang timbul dari kehendakku sebagai
manusia untuk berkuasa atas mekanisme hidupku. Namun, Aku tetap memiliki
keyakinan, yang menjagaku agar tetap tahu diri sebagai seorang mahluk yang
tidak kekal. Keyakinan ini pula yang membuatku bimbang atas pilihan jalan mana
yang akan kuambil, apakah aku akan tetap hidup dalam dua dunia?

 

Satu hal yang
pasti, Aku hidup dari kesalahan, proses trial
and error
yang terus berjalan mengiringi hidupku. Hidup tergantung dari
bagaimana aku memaknainya, bukan makna hidup yang mempengaruhi hidupku, karena
sebenarnya makna itu hasil dari buah pikir dan kehendak untuk berkuasa. Seperti
makna yang tertera pada sebuah label yang merupakan hasil dari konvensi dalam
masyarakat. Makna itu ada karena aku memberikannya, makna itu tidak ada
seandainya Aku terlalu malas untuk berpikir. Kesalahan tergantung dari
bagaimana aku memaknainya, karena secara fundamental kesalahan atau kebenaran
itu kabur, bias, tidak ada. Akulah yang memaknainya, akulah yang membuatnya
kontras dan akulah yang menjadikannya positif ataupun negatif. Kesalahan akan
tetap menjadi kesalahan karena aku memaknainya. Kesalahan akan tetap menjadi
negatif seandainya dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Kesalahan akan
menjadi kekuatan yang sempurna seandainya dimaknai secara positif.

 

Life must go on, seorang patah hati pernah menasehatiku. Aku baru sadar jika rangkaian kata
tersebut ternyata mengandung makna yang sangat dalam, walaupun pemaknaan ini
sifatnya arbitrer. Aku tidak boleh hidup dalam ketertutupan hatiku, kegelapan
jiwaku serta kesempitan pikiranku. Aku sendiri yang harus membuat setitik sinar
harapan yang akan semakin membesar, semakin dinamis dan semakin kompleks
sehingga dapat membuka pintu hatiku, menerangi jiwaku serta meluaskan
pikiranku.

 

Always believe that…

Life must go on…

 

Sarjunas Mukodir

03.53 - August 10, 2008

Ketika Tangan Tak Bisa Melangkah dan Kaki Tak Bisa Menggenggam

April 13th, 2007 by unaz

Takdir, itulah yang
orang-orang selalu katakan ketika dirinya tak mampu menghadapi
kegagalan dan ketertutupan hati dalam menerima keadaan dirinya. Orang
tak berani melakukan sesuatu yang berada diluar koridor pemikiran
orang-orang kebanyakan (bisa dibilang mainset yang sangat  biasa).
Padahal, apapun yang terjadi dalam hidupnya disebabkan oleh keegoisan
diri untuk tidak berpikir diluar mainstream.

Siklus hidup manusia
biasanya dimulai dari lahir sampai jasad berubah bersatu dengan
tanah, berlangsung sangat monoton – kecuali untuk orang-orang
sukses dan berpikiran terbuka -. Mulai dari lahir turun ke dunia
(dunia biasanya kita sebut realitas) setelah 9 bulan berada dalam
dunia rahim, kemudian menikmati masa kanak-kanak, sekolah mulai dari
tingkatan paling rendah sampai tingkatan paling tinggi (pendidikan
yang maha-), bekerja atau menikah, berkeluarga dan kemudian mati.

Kebanyakan orang-orang
terjebak ke dalam jurang siklus kehidupan seperti itu yang
menyebabkan pola pikirnya terkekang dalam norma-norma cacat yang
dibuat oleh dirinya sendiri. Orang kemudian berpikir bahwa sekolah
adalah untuk mencari kerja, untuk kemudian hidup enak dan seterusnya
mati meninggalkan banyak harta untuk digunakan oleh keturunannya.
Kehidupan seperti itu sebenarnya dapat kita sebut sebagai siklus yang
cacat atau terhenti. Namun, untuk sebagian orang yang mempercayai
reinkarnasi mungkin ini bisa disebut sebagai siklus sempurna manusia.

Apakah memang itulah
siklus yang disebut sempurna? Apakah kita tak menyadari bahwa kita
menjalani siklus yang sebenarnya merupakan stigma kehidupan manusia?
Coba dicermati bahwa sebenarnya itu adalah hasil pemikiran manusia
kebanyakan atau hasil persepsi individu dalam hidup bermasyakarat.
Tentu saja itu dapat kita maknai sebagai hasil pemikiran subjektif
mengenai kehidupan manusia. Kita tahu bahwa subjektivitas hanya
berlaku untuk sesuatu yang sama atau serupa sedangkan hidup manusia
sangat beragam dan multipersepsi. Inilah yang menjadi bias ketika
kita berpikir tentang masa depan.

Coba pandang orang-orang
yang biasa hidup diluar mainstream namun ternyata pemikirannya
tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan
manusia. Galileo yang dulu dijauhi orang-orang karena pemikirannya
yang ‘diluar batas pikiran manusia’ (selain karena penyakit kusta
yang dideritanya) namun ternyata penemuannya dalam bidang sains
sangat berguna dalam kehidupan manusia. Contoh lain adalah Wright
bersaudara yang dianggap gila karena memiliki mimpi untuk bisa
terbang, namun bisa menciptakan pesawat terbang yang sampai saat ini
desain pesawatnya dijadikan dasar dalam pengembangan dan pembuatan
pesawat ulang alik. Kemudian masih banyak lagi contoh lainnya.

Tak bisa dipungkiri lagi
memang ketika ketika kita berpikir diluar mainstream itu tak menjamin
kehidupan yang enak, terkadang bersusah-susah dahulu, kemudian baru
senang ketika menjelang akhir hayat. Dahulu pemikiran yang berbeda
tidak dapat diterima namun sekarang pemikiran tersebut dapat diterima
secara terbuka sejauh itu tidak mengganggu kepentingan individu.

Beda itu biasa, namun sama
itu sangat biasa. Kebanyakan kita hidup dengan cara yang sama dan
memikirkan masa depan yang sama (hidup yang bahagia atau mencapai
kepuasan diri). Namun, apakah sama itu benar? (Kita tidak cukup bodoh
untuk menjawab pertanyaan itu) Tentu tidak, inilah yang perlu kita
cermati. Kebanyakan dari kita menjalani pendidikan (sekolah) untuk
mendapatkan pekerjaan yang mapan, namun sebenarnya bukan sekolah saja
yang memberikan kita bekal kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang
mapan. Bisa dengan berorganisasi di luar pendidikan kurikuler atau
biasa kita sebut ekstrakurikuler yang katanya memberikan lebih banyak
pengalaman yang berharga sebagai bekal kita untuk mendapatkan
pekerjaan yang mapan daripada pendidikan formal. Namun, bukan berarti
kedua hal itu bertolak belakang tetapi berjalan secara sinergis dan
saling melengkapi. Selain itu, bisa juga sambil mengikuti
kursus-kursus dan kerja part time sebagai upaya pengembangan diri.

Banyak contoh kegagalan
orang-orang yang hidup dalam cara berpikir mainstream. Diantaranya
adalah kebanyakan sarjana di negeri kita menganggur karena hanya
mengandalkan pendidikan formalnya, tidak mengikuti kegiatan apapun
diluar itu. Kebanyakan perusahaan melihat itu sebagai calon-calon
yang tidak berpengalaman. Kemudian ada lagi, orang-orang yang sibuk
melakukan kegiatan diluar kurikulum namun pendidikan formalnya hancur
dan tidak terurus dan berakhir sama.

Berdasarkan ilustrasi
tersebut dapat kita lihat kita bisa mendapatkan sesuatu lebih mudah
dan lebih berharga dengan cara yang belum tentu sama atau bahkan sama
sekali berbeda asal tepat guna, maksudnya tahu apa yang harus atau
tidak harus dilakukan terhadap sesuatu dan  tahu fungsi dan
kegunaannya sesuatu tersebut dalam mencapai tujuan kita. Mainstream
berpikir bahwa pendidikan formal untuk mencari pekerjaan, padahal
sebenarnya pendidikan formal dalam kurikulum kebanyakan lembaga
pendidikan tidak didesain seperti itu, tetapi pendidikan formal
sebenarnya berguna sebagai wadah untuk memberdayakan potensi kita,
sarana untuk membentuk kompentensi diri dan dasar dalam pembentukan
pribadi yang matang. Oleh karena itu, kebanyakan lulusan lembaga
pendidikan dianggap masih mentah dan kurang berpengalaman sedangkan
yang dibutuhkan oleh perusahaan kebanyakan adalah yang berpengalaman.
Walhasil, banyak sarjana yang menganggur.

Inilah kondisi kehidupan
dengan siklus cacat yang biasa kita jalani. Stigma kehidupan yang tak
pernah kita sadari. Sebuah kondisi yang tak pernah kita pahami,
kondisi ketika tangan tak bisa melangkah dan kaki tak bisa
menggenggam. Keadaan ketika kita membaca sebuah bias sehingga
melakukan sesuatu dengan tidak tepat guna.

Penulis berpikir bahwa
sebenarnya pendidikan yang sesuai dengan kurikulum berguna sebagai
wadah, sarana dan dasar dalam pemberdayaan potensi, pembentukan
kompetensi diri dan pembentukan pribadi yang matang. Sedangkan,
pendidikan dalam ranah ekstrakurikuler adalah isi dalam wadah
tersebut, sesuatu untuk membentuk kompetensi diri dan sesuatu untuk
membentuk pribadi yang matang, dan bukan sebaliknya.

Tulisan ini tidak
bermaksud mendiskreditkan para filsuf yang terkadang memaknai sesuatu
khususnya kehidupan secara arbitrer. Makna kehidupan yang sebenarnya
hanya pencipta kita yang tahu. Pemaknaan kehidupan disini hanya
dibatasi di sekitar lingkungan kampus dan kehidupan masyarakat kota
dan hanya sebatas hasil persepsi subjektif penulis mengenai kehidupan
berdasarkan pengalaman penulis yang seadanya, serta dalam koridor
mainset yang berpikir, “hidup itu terlihat sangat sederhana namun
dibaliknya sangat beragam, menjunjung kohesivitas dan multipersepsi”.

Hanya sekedar mengisi
waktu-waktu luang yang dipenuhi kejenuhan dan kemuakan terhadap
mainstream, yang mengiming-imingi mimpi untuk mendapatkan titel
sarjana dengan cepat walaupun belum cukup ‘berisi’ sehingga
menimbulkan rasa iri terdalam yang sebenarnya tidak pernah menjadi
masalah untuk diri pribadi penulis. Hidup mempunyai banyak pilihan
untuk dijalani, cara-cara yang berbeda itu biasa, walaupun kita hidup
dalam komunitas sosial namun cara-cara hidup yang berbeda tidak harus
menjadi masalah. Cara yang berbeda bukan berarti buruk tetapi mungkin
bisa berguna bagi diri individu dan masyarakat umum.

23 Februari 2007, 00:46

unaz