Takdir, itulah yang
orang-orang selalu katakan ketika dirinya tak mampu menghadapi
kegagalan dan ketertutupan hati dalam menerima keadaan dirinya. Orang
tak berani melakukan sesuatu yang berada diluar koridor pemikiran
orang-orang kebanyakan (bisa dibilang mainset yang sangat biasa).
Padahal, apapun yang terjadi dalam hidupnya disebabkan oleh keegoisan
diri untuk tidak berpikir diluar mainstream.
Siklus hidup manusia
biasanya dimulai dari lahir sampai jasad berubah bersatu dengan
tanah, berlangsung sangat monoton – kecuali untuk orang-orang
sukses dan berpikiran terbuka -. Mulai dari lahir turun ke dunia
(dunia biasanya kita sebut realitas) setelah 9 bulan berada dalam
dunia rahim, kemudian menikmati masa kanak-kanak, sekolah mulai dari
tingkatan paling rendah sampai tingkatan paling tinggi (pendidikan
yang maha-), bekerja atau menikah, berkeluarga dan kemudian mati.
Kebanyakan orang-orang
terjebak ke dalam jurang siklus kehidupan seperti itu yang
menyebabkan pola pikirnya terkekang dalam norma-norma cacat yang
dibuat oleh dirinya sendiri. Orang kemudian berpikir bahwa sekolah
adalah untuk mencari kerja, untuk kemudian hidup enak dan seterusnya
mati meninggalkan banyak harta untuk digunakan oleh keturunannya.
Kehidupan seperti itu sebenarnya dapat kita sebut sebagai siklus yang
cacat atau terhenti. Namun, untuk sebagian orang yang mempercayai
reinkarnasi mungkin ini bisa disebut sebagai siklus sempurna manusia.
Apakah memang itulah
siklus yang disebut sempurna? Apakah kita tak menyadari bahwa kita
menjalani siklus yang sebenarnya merupakan stigma kehidupan manusia?
Coba dicermati bahwa sebenarnya itu adalah hasil pemikiran manusia
kebanyakan atau hasil persepsi individu dalam hidup bermasyakarat.
Tentu saja itu dapat kita maknai sebagai hasil pemikiran subjektif
mengenai kehidupan manusia. Kita tahu bahwa subjektivitas hanya
berlaku untuk sesuatu yang sama atau serupa sedangkan hidup manusia
sangat beragam dan multipersepsi. Inilah yang menjadi bias ketika
kita berpikir tentang masa depan.
Coba pandang orang-orang
yang biasa hidup diluar mainstream namun ternyata pemikirannya
tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan
manusia. Galileo yang dulu dijauhi orang-orang karena pemikirannya
yang ‘diluar batas pikiran manusia’ (selain karena penyakit kusta
yang dideritanya) namun ternyata penemuannya dalam bidang sains
sangat berguna dalam kehidupan manusia. Contoh lain adalah Wright
bersaudara yang dianggap gila karena memiliki mimpi untuk bisa
terbang, namun bisa menciptakan pesawat terbang yang sampai saat ini
desain pesawatnya dijadikan dasar dalam pengembangan dan pembuatan
pesawat ulang alik. Kemudian masih banyak lagi contoh lainnya.
Tak bisa dipungkiri lagi
memang ketika ketika kita berpikir diluar mainstream itu tak menjamin
kehidupan yang enak, terkadang bersusah-susah dahulu, kemudian baru
senang ketika menjelang akhir hayat. Dahulu pemikiran yang berbeda
tidak dapat diterima namun sekarang pemikiran tersebut dapat diterima
secara terbuka sejauh itu tidak mengganggu kepentingan individu.
Beda itu biasa, namun sama
itu sangat biasa. Kebanyakan kita hidup dengan cara yang sama dan
memikirkan masa depan yang sama (hidup yang bahagia atau mencapai
kepuasan diri). Namun, apakah sama itu benar? (Kita tidak cukup bodoh
untuk menjawab pertanyaan itu) Tentu tidak, inilah yang perlu kita
cermati. Kebanyakan dari kita menjalani pendidikan (sekolah) untuk
mendapatkan pekerjaan yang mapan, namun sebenarnya bukan sekolah saja
yang memberikan kita bekal kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang
mapan. Bisa dengan berorganisasi di luar pendidikan kurikuler atau
biasa kita sebut ekstrakurikuler yang katanya memberikan lebih banyak
pengalaman yang berharga sebagai bekal kita untuk mendapatkan
pekerjaan yang mapan daripada pendidikan formal. Namun, bukan berarti
kedua hal itu bertolak belakang tetapi berjalan secara sinergis dan
saling melengkapi. Selain itu, bisa juga sambil mengikuti
kursus-kursus dan kerja part time sebagai upaya pengembangan diri.
Banyak contoh kegagalan
orang-orang yang hidup dalam cara berpikir mainstream. Diantaranya
adalah kebanyakan sarjana di negeri kita menganggur karena hanya
mengandalkan pendidikan formalnya, tidak mengikuti kegiatan apapun
diluar itu. Kebanyakan perusahaan melihat itu sebagai calon-calon
yang tidak berpengalaman. Kemudian ada lagi, orang-orang yang sibuk
melakukan kegiatan diluar kurikulum namun pendidikan formalnya hancur
dan tidak terurus dan berakhir sama.
Berdasarkan ilustrasi
tersebut dapat kita lihat kita bisa mendapatkan sesuatu lebih mudah
dan lebih berharga dengan cara yang belum tentu sama atau bahkan sama
sekali berbeda asal tepat guna, maksudnya tahu apa yang harus atau
tidak harus dilakukan terhadap sesuatu dan tahu fungsi dan
kegunaannya sesuatu tersebut dalam mencapai tujuan kita. Mainstream
berpikir bahwa pendidikan formal untuk mencari pekerjaan, padahal
sebenarnya pendidikan formal dalam kurikulum kebanyakan lembaga
pendidikan tidak didesain seperti itu, tetapi pendidikan formal
sebenarnya berguna sebagai wadah untuk memberdayakan potensi kita,
sarana untuk membentuk kompentensi diri dan dasar dalam pembentukan
pribadi yang matang. Oleh karena itu, kebanyakan lulusan lembaga
pendidikan dianggap masih mentah dan kurang berpengalaman sedangkan
yang dibutuhkan oleh perusahaan kebanyakan adalah yang berpengalaman.
Walhasil, banyak sarjana yang menganggur.
Inilah kondisi kehidupan
dengan siklus cacat yang biasa kita jalani. Stigma kehidupan yang tak
pernah kita sadari. Sebuah kondisi yang tak pernah kita pahami,
kondisi ketika tangan tak bisa melangkah dan kaki tak bisa
menggenggam. Keadaan ketika kita membaca sebuah bias sehingga
melakukan sesuatu dengan tidak tepat guna.
Penulis berpikir bahwa
sebenarnya pendidikan yang sesuai dengan kurikulum berguna sebagai
wadah, sarana dan dasar dalam pemberdayaan potensi, pembentukan
kompetensi diri dan pembentukan pribadi yang matang. Sedangkan,
pendidikan dalam ranah ekstrakurikuler adalah isi dalam wadah
tersebut, sesuatu untuk membentuk kompetensi diri dan sesuatu untuk
membentuk pribadi yang matang, dan bukan sebaliknya.
Tulisan ini tidak
bermaksud mendiskreditkan para filsuf yang terkadang memaknai sesuatu
khususnya kehidupan secara arbitrer. Makna kehidupan yang sebenarnya
hanya pencipta kita yang tahu. Pemaknaan kehidupan disini hanya
dibatasi di sekitar lingkungan kampus dan kehidupan masyarakat kota
dan hanya sebatas hasil persepsi subjektif penulis mengenai kehidupan
berdasarkan pengalaman penulis yang seadanya, serta dalam koridor
mainset yang berpikir, “hidup itu terlihat sangat sederhana namun
dibaliknya sangat beragam, menjunjung kohesivitas dan multipersepsi”.
Hanya sekedar mengisi
waktu-waktu luang yang dipenuhi kejenuhan dan kemuakan terhadap
mainstream, yang mengiming-imingi mimpi untuk mendapatkan titel
sarjana dengan cepat walaupun belum cukup ‘berisi’ sehingga
menimbulkan rasa iri terdalam yang sebenarnya tidak pernah menjadi
masalah untuk diri pribadi penulis. Hidup mempunyai banyak pilihan
untuk dijalani, cara-cara yang berbeda itu biasa, walaupun kita hidup
dalam komunitas sosial namun cara-cara hidup yang berbeda tidak harus
menjadi masalah. Cara yang berbeda bukan berarti buruk tetapi mungkin
bisa berguna bagi diri individu dan masyarakat umum.
23 Februari 2007, 00:46
unaz